ANALISIS KESALAHAN BERBICARA PADA PIDATO PEMIMPIN
(SUSILO BAMBANG YUDHIOYONO)
NAMA : ADE SAFITRI
NPM : 126211811
KELAS : 5A
1.
Kesalahan Pelafalan karena Penambahan Fonem Konsonan pada Tataran
Fonologi
Bentuk Tidak Baku
Saya
telah berkonsultasi dengan Berrrbagai pihak.
Bentuk
Baku
Saya
telah berkonsultasi dengan Berbagai pihak.
Kesalahan yang terdapat pada kata yang dicetak miring dalam kalimat
diatas adalah kesalahan berbahasa karena penambahan fonem konsonan, yaitu
fkonsonan /rr/ pada kata berbagai menjadi berrrbagai.
Menurut Depdiknas (KBBI:112) kata berbagai memiliki makna
yaitu, ber·ba·gai v
1 kl
mempunyai persamaan; berbanding; bertara: parasnya elok tiada -; 2 bermacam-macam;
berjenis-jenis: - daya
upaya telah dilakukan; - cara telah dicoba.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diambil kesimpulannya bahwa
pelafalan berrrbagai tersebut merupakan kesalahan dalam berbahasa. Agar
pelafalannya sesuai dengan kaidah baku maka harus dilafalkan berbagai.
2.
Kesalahan Pelafalan karena Penghilangan Fonem Konsonan pada Tataran
Fonologi
Bentuk Tidak Baku
Undang-undang
nomor 22 taun 2004.
Bentuk Baku
Undang-undang
nomor 22 tahun 2004.
Pada kata yang dicetak miring pada kalimat diatas terdapat sebuah
kesalahan berbahsa. Kesalahan pelafalan diakibatkan karena penghilangan fonem
konsonan /h/ pada kata tahun sehingga menjadi taun.
Menurut Depdiknas (KBBI:1378) kata tahun
memiliki makna yaitu, ta·hun [1] n
1 masa yg lamanya dua belas bulan: ia pernah bekerja di luar negeri
selama dua --; 2 bilangan yg menyatakan tarikh: ia dilahirkan --
1940; 3 masa dua belas bulan yg ke ...: majalah Tempo -- II Nomor
6; 4 masa dua belas bulan untuk ...; 5
musim (dl arti masa selama tanaman atau tumbuh-tumbuhan hidup): -- jagung (3
atau 4 bulan).
Dapat diambil kesimpulan bahwa
pelafalan kata taun pada kalimat tersebut merupakan sebuah kesalahan
dalam berbahasa. Agar penggunaannya tepat dan tidak menyebabkan kesalahan dalam
berbahasa maka kata taun harus dilafalkan menjadi tahun.
3.
Kesalahan Pelafalan karena Perubahan Fonem Konsonan pada Tataran
Fonologi
Bentuk Tidak Baku
Ijinkan saya untuk tetap berikhtiar demi tegaknya kedaulatan rakyat.
Bentuk
Baku
Izinkan
saya untuk tetap berikhtiar demi tegaknya kedaulatan rakyat.
Kesalahan berbahasa yang terdapat
pada kata yang dicetak miring diatas adalah kesalahan pelafalan karena
perubahan fonem konsonan /k/ menjadi /j/ pada kata izin menjadi ijin.
Kata ijin merupakan benttuk yang tidak baku, sehingga penggunaanya akan
menyebankan sebuah kesalahan dalam berbahasa.
Menurut Depdiknas
(KBBI:553) kata izin memiliki makna yaitu, izin n
pernyataan mengabulkan (tidak melarang dsb); per-setujuan membolehkan: ia
telah mendapat -- untuk mendiri-kan perusahaan mebel. Sedangkan kata ijin
di dalam KBBI tidak memiliki makna.
Kesimpulannya
adalah penggunaan kata ijin tidaklah tepat. Sehingga kesalahan pelafalan
tersebut bisa diganti dengan kata izin yang merupakan kata baku dalam
bahasa Indonesia.
4.
Kesalahan Berbahasa karena Penggunaan Unsur yang Berlebihan pada
Tataran Sintaksis
Bentuk Tidak Baku
Saya
sendiri pun juga merasakan kekecewaan yang sama.
Bentuk
Baku
Saya sendiri pun merasakan kekecewaan yang sama.
Saya sendiri juga merasakan kekecewaan yang sama.
Kesalahan yang terdapat pada kata yang dicetak miring diatas adalah
karena penggunaan unsur yang berlebihan. Unsur yang berlebihan tersebut
dianggap sebagai kesalahan berbahasa karena hal tersebut merupakan mubazir
kata. kata pun dan juga mempunyai maksud yang sama. Sehingga
penggunaan kata-kata tersebut dipilih salah satunya saja.
Menurut Depdiknas (KBBI:1117) kata pun
memiliki makna yaitu, pun p 1 juga atau demikian juga: jika
Anda pergi, saya -- hendak pergi; 2 meski; biar; kendati: mahal
-- dibelinya juga; 3 saja ...: berdiri -- tidak dapat, apalagi
berjalan; apa -- dimakannya (jua); 4 (···pun ···lah)
untuk menyatakan aspek bahwa perbuatan mulai terjadi: hari -- malamlah; 5
untuk menguatkan dan menyatakan pokok kalimat: maka baginda -- bertanya pula.
Kata juga (KBBI:590) memiliki
makna yaitu, ju·ga adv 1 selalu demikian halnya
(kadang-kadang untuk menekankan kata di depannya): berkali-kali dipanggil,
tetapi ia tidak mau datang --; 2 sama atau serupa halnya dng yg lain
atau yg tersebut dahulu: ayahnya pandai, anaknya – demikian.
5.
Kesalahan Berbahasa karena Kesalahan Penyusunan Kata pada Tataran
Sintaksis
Bentuk Tidak Baku
Saya
telah dengan cermat menggunakan hak konstitusional.
Bentuk Baku yang tidak tepat.
Saya
dengan cermat telah menggunakan hakk onstitusional.
Pada kalimat
diatas terdapat sebuah kesalahan berbahasa, yaitu kesalahan karena susunan
kata. kata telah yang diletakkan di depan kata dengan merupakan sebuah
kesalahan. Dalam tata bahasa baku dijelaskan bahwa kata telah berfungsi
untuk menerangkan kata kerja/verba. Sedangkan kata dengan bukanlah kata
kerja. Agar tidak terjadi kesalahan berbahasa dalam bentuk tersebut kata telah
bisa diletakkan di depan kata menggunakan.
Menurut Depdiknas (KBBI:1424) kata telah
memiliki makna yaitu, te·lah [1] adv
sudah (untuk menyatakan perbuatan, keadaan dsb yg sempurna, lampau, atau
selesai): ia -- pergi dan tidak akan kembali lagi; mereka -- membeli karcis.
6.
Kesalahan Pelafalan karena Penghilangan Fonem Vokal pada Tataran
Fonologi
Bentuk Tidak Baku
Biaya
pengluaran seperti ini.
Bentuk
Baku
Biaya
pengeluaran seperti ini.
Kesalahan pada
kata yang dicetak miring diatas adalah kesalahan karena penghilangan fonem
vokal /e/ pada kata pengeluaran menjadi pengluaran. Kata pengluaran
bukanlah kata baku, sehingga pemakaian kata pengluaran dianggap
sebagai kesalahan berbahasa.
Menurut Depdiknas
(KBBI:659) kata pengeluaran memiliki makna yaitu, pe·nge·lu·ar·an
n 1
proses, cara, perbuatan mengeluarkan (menghasilkan); 2 belanja.
7.
Kesalahan Berbahasa karena Penambahan Fonem pada Tataran Fonologi
Bentuk Tidak Baku
Saya
jugak mengerti bahwa dalam pelaksanaannya ada banyak hal yang perlu
diperbaiki.
Bentuk Baku
Saya
juga mengerti bahwa dalam pelaksanaannya ada banyak hal yang perlu
diperbaiki.
Kesalahan yang terdapat pada kalimat diatas adalah kesalahan karena
penambahan fonem konsonan /k/ pada kata juga menjadi jugak. Kata jugak
bukanlah bentuk baku dalam bahasa Indonesia. Sehingga pemakaiannya dinaggap
sebagai sebuah kesalahan dalam berbahasa.
Menurut Depdiknas (KBB:590) kata juga
memiliki makna yaitu, ju·ga adv 1 selalu demikian halnya
(kadang-kadang untuk menekankan kata di depannya): berkali-kali dipanggil,
tetapi ia tidak mau datang --; 2 sama atau serupa halnya dng yg lain
atau yg tersebut dahulu: ayahnya pandai, anaknya – demikian.
DAFTAR PUSTAKA
Setyawati, Nanik. 2010.
Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia.
Surakarta: Yuma Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional.
2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata
Bahasa Baku Bahasa indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar