ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA TATARAN MORFOLOGI MAJALAH ANEKA
YESS JULI 2013
Baik ragam tulis maupun ragam lisan dapat terjadi kesalahan
berbahasa dalam pembentukan kata atau tataran morfologi. Kesalahan berbahsa dalam
tataran morfologi disebabkan oleh berbagai hal. Berikut ini kesalahan-kesalhan
yang saya temukan dalam majalah aneka yess.
Nama : Ade Safitri
NPM : 126211811
Kelas : 5A
PENGHILANGAN AFIKS
Penghilangan Prefiks meng-
Pada majalah Aneka Yess yang saya analisis ditemukan adanya gejala
penghilangan prefiks meng-. Hal ini terjadi karena disebabkan oleh penghematan
yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena justru merupakan pemkaian yang salah
karena tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Lafal tidak baku
Masing-masing dari mereka punya inspirasi. (hlm: 14)
Lafal baku
Masing-masing dari mereka mempunyai inspirasi.
Di dalam KBBI kata punya
merupkan sebuah kata dasar. Jika ia terletak di dalam sebuah kalimat maka harus
menggunakan prefiks meng- agar sesuai dengan kaidah tata bahasa baku. Sehingga
kata dasar punya tersebut seharusnya dibuat mempunyai. Di dalam
KBBI (2008 : 1118) kata mempunyai
memiliki makna yaitu, mem·pu·nyai v memiliki; menaruh: perguruan itu ~ lima buah fakultas.
Lafal tidak baku
Kamu bisa dapatkan dengan mudah kok. (hlm: 99)
Lafal baku
Kamu bisa mendapatkan dengan mudah kok.
Kesalahan pada
tataran morfologi yang terdapat pada kata yang dilingkari dalam kalimat diatas
adalah karena menghilangkan prefiks meng-. Kata dapatkan tidak ada di
dalam KBBI, sehingga kata tersebut bukanlah kata yang baku untuk digunakan. Kata
dapatkan harus memiliki prefiks meng- agar sesuai dengan kaidah bahasa
Indonesia menjadi kata mendapatkan.
Jika kita ingin
menghemat kata-kata, maka jangan sampai merusak kaidah bahasa. Bentuk-bentuk
penghilangan meng- ini hanya dibenarkan pemakaiannya pada kepala berita surat
kabar atau media cetak. Sedangkan pada beritanya atau pada tulisan resmi
lainnya penghilangan awalan meng- ini tidak dibenarkan, karena tidak sesuai
dengan kaidah bahasa.
Kalimat tidak baku
Paling ngeri kalau lihat kecoa terbang. (hlm: 20)
Kalimat baku
Paling mengerikan kalau lihat kecoa terbang.
Kata mengerikan
berasal dari kata dasar ngeri. Penggunaan kata ngeri dalam
kalimat tersebut tidak tepat. Seharusnya pada kata ngeri tersebut digunakan
prefiks meng- sehingga menjadi mengerikan agar penggunaannya
sesuai dengan kaidah baku bahasa Indonesia.
Dalam KBBI (2008:
961) kata mengerikan memiliki makna
yaitu, me·nge·ri·kan v menimbulkan rasa ngeri (seram yg menyebabkan berdiri bulu
roma): tabrakan kereta
api dng kereta api itu sangat.
Penghilangan Prefiks ber-
Pada majalah Aneka Yess Juli 2013 yang saya analisis pada tataran
morfologinya dan ditemukan keslahan karena penghilangan prefiks ber-. Prefiks
ber- yang tidak dieksplisitkan tentunya merupakan suatu kesalahan dalam kaidah
bahasa Indonesia.
Lafal Tidak Baku
Kami juga ingin membuktikan kalau kalau S4 bisa loh nyanyi
lagu ballad. (hlm: 19)
Lafal Baku
Kami juga ingin membuktikan kalau kalau S4 bisa loh bernyanyi
lagu ballad.
Kata bernyanyi memiliki
kata dasar nyanyi. Penggunaan kata nyanyi dalam kalimat tersebut
tidaklah tepat, seharusnya yang digunakan adalah kata bernyanyi karena
ia menduduki unsur predikat. Kata yang menduduki unsur predikat harus diberi
prefiks ber-. Kata bernyanyi di dalam KBBI (2008: 972) memilki makna
yaitu, ber·nya·nyi v
mengeluarkan suara bernada; berlagu (dng lirik atau tidak): bekerja sambil ~ dapat mengurangi
kelelahan.
PENYINGKATAN MORF MEM-, MEN-, MENG-, MENY-, DAN MENGE-
Kesalahan yang ditemukan dalam majalah Aneka Yess Juli 2013 dengan
menyingkat morf mem-, men-, meng-, meny-, den menge- menjadi m-,
n-, ng-, ny-, dan nge-. Pemakaian bentuk sepert itu tentunya
merupakan sebuah kesalahan dalam berbahasa kaerna tidak sesuai dengan kaidah
baku bahasa Indonesia.
Lafal tidak baku
Kim Do Hoon yang nyiptain lagu She’s My Girl. (hlm: 19)
Lafal baku
Kim Do Hoon yang menciptakan lagu She’s My Girl.
Kata menciptakan
berasal dari kata cipta. Jika ia berada dalam sebuah kalimat yang menduduki
posisi predikat maka ia harus memiliki prefiks men- dan menjadi kalimat
menciptakan. Namun pada kata yang ada pada majalah Aneka Yess tersebut kata
menciptakan disingkta menjadi nyiptain. Tentu saja penggunaannya tidak tepat
dan merupakan sebuah kesalahan dalam berbahasa.
Di dalam KBBI (2008: 269) kata menciptakan memiliki makna yaitu, men·cip·ta·kan
v 1
menjadikan sesuatu yg baru tidak dng bahan: Allah ~ bumi dan langit; 2 membuat atau
mengadakan sesuatu dng kekuatan batin: menurut cerita, yg ~ Candi Prambanan ialah Bandung
Bondowoso; 3 membuat (mengadakan) sesuatu yg baru (belum
pernah ada, luar biasa, lain dr yg lain): melalui perundingan kita dapat ~ suasana saling mengerti;
4 membuat suatu hasil kesenian (spt mengarang lagu, memahat patung): yg ~ lagu Indonesia Raya adalah
W.R. Supratman.
Lafal tidak baku
Itu nyebelin banget. (hlm: 21)
Itu menyebalkan banget.
Kata menyebalkan berasal dari kata sebal. Jika ia berada
dalam sebuah maka ia harus memiliki prefiks men- dan menjadi kalimat menyebalkan.
Namun pada kata yang ada pada majalah Aneka Yess tersebut kata menyebakkan disingkat
menjadi nyebelin. Tentu saja penggunaannya tidak tepat dan merupakan
sebuah kesalahan dalam berbahasa.
Di dalam KBBI (2008: 1236) kata
menyebalkan memiliki makna yaitu, me·nye·bal·kan v menimbulkan rasa
sebal; mengesalkan (hati): pelajaran
itu - benar hingga kami selalu mengantuk.
Lafal tidak baku
Ngejaga kulit kamu dari
sinar matahri. (hlm: 3)
Lafal baku
Menjaga kulit kamu
dari sinar matahari.
Kata dasar menjaga
berasal dari kata jaga. Jika ia di dalam kalimat ia harus menggunakan awalan
men- sehingga menjadi menjaga. Dalam majalah tersebut dibuat ngejaga, sehingga
kata tersebut bukan lagi merupakan kata baku dan penggunaannya tidak tepat
sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku.
Kata menjaga
menurut KBBI (2008: 555) memiliki makna yaitu, men·ja·ga v 1 menunggui
(supaya selamat atau tidak ada gangguan): mereka selalu ~ kampungnya dng baik; 2
mengiringi untuk melindungi dr bahaya; mengawal: ajudan itu selalu ~ atasannya; 3
mengasuh (mengawasi anak kecil); 4 mengawasi sesuatu supaya tidak
mendatangkan bahaya; mencegah (bahaya, kesukaran, kerugian): tugas mereka ialah ~ bahaya api;
5 mempertahankan keselamatan (orang, barang, dsb): pemerintah memperkuat pasukan yg ~
pantai; 6 mengikhtiarkan (supaya); mengurus (supaya): kita harus ~ agar pemasukan tidak
lebih besar dp pengeluaran; 7 memeliharakan; merawat: ia ~ baik-baik neneknya yg sakit;~
diri bertindak hati-hati agar tidak mendapat kesulitan; ~ hati
menenggang perasaan; ~ langkah menjaga diri; ~ mata bertindak
hati-hati dng tidak memperhatikan hal-hal yg tidak patut dilihat; ~ mulut
berbicara hati-hati agar tidak menyakitkan hati orang lain; ~ telinga
bertindak hati-hati dng tidak mendengarkan hal-hal yg tidak patut didengar.
Lafal tidak baku
Ngelindungin kulit dari
paparan sinar matahari. (hlm:3)
Lafal baku
Melindungi kulit dari
paparan sinar matahari.
Pada kalimat
diatas terdapat kesalahan sebuah kata karena penyingkatan morf me-. Kesalahan
tersebut terletak pada kata ngelindungin. Kata dasar lindung jika diberi afiks
me- seharusnya menjadi melindungi buka ngelindungin.
Dalam KBBI (2008: kata melindungi
memiliki makna yaitu, me·lin·dungi v 1 menutupi supaya tidak terlihat atau
tampak, tidak kena panas, angin, atau udara dingin, dsb: anak itu ~ dirinya dng daun pisang
supaya tidak kehujanan; 2 menjaga; merawat; memelihara: pemerintah ~ binatang yg hampir
punah; 3 menyelamatkan (memberi pertolongan dsb) supaya
terhindar dr mara bahaya: induk
ayam itu ~ anaknya thd serangan burung elang.
Lafal tidak baku
Hargai setiap rupiah yang dikeluarkan buat ngebelinya dulu.
(hlm: 62)
Lafal baku
Hargai setiap rupiah yang dikeluarkan buat membelinya dulu.
Jika dianalisis
dari segi tatarannya pada kalimat diatas ditemukan sebuah kata yang memiliki
kesalahan karena penyingkatan morf yaitu morf mem- pada kata dasar beli.
Dalam KBBI kata dasar beli dibubuhi afiks mem- maka membentuk
kata membeli/membelinya bukan ngebelinya. Jadi, penggunaan kata ngebelinya
pada kalimat diatas tidaklah tepat.
Menurut KBBI
(2008: 136) kata membeli memiliki makna yaitu, mem·be·li v
1 memperoleh sesuatu melalui penukaran (pembayaran) dng uang: Ibu
pergi ke pasar untuk - beras dan sayur; 2 memperoleh sesuatu dng
pengorbanan (usaha dsb) yg berat;alah (kalah) -, menang memakai, pb biarpun
harganya mahal, tetapi dapat dipakai lama krn mutunya baik.
Bentuk-bentuk yang dicetak miring di atas atau yang dilingkari
dengan warna merah tersebut seharusnya dituliskan secara lengkap, yaitu dengan
tidak menyingkat alomorf dari meng-. Atau dengan kata lain morf-morf tersebut
tidak perlu disingkat agar tidak menyalahi kaidah baku bahasa Indonesia.
PENGGUNAAN AFIKS YANG TIDAK TEPAT
Penggunaan Prefiks ke-
Pada majalah Aneka Yess yang telah saya analisis banyak saya
temuakn pemakaian bentukan kata yang berprefiks ke- sebagai padanan kata yang
berprefik ter-. Kata-kata tersebut ada dalam kalimat berikut ini:
Lafal tidak baku
Apalagi kalau kecoa-nya kebalik kayak bali dance
gitu. (hlm: 20)
Lafal baku
Apalagi kalau kecoa-nya terbalik kayak bali dance
gitu.
Bentuk kata kebalik pada kalimat di atas merupakan bentuk
kata yang tidak baku. Kesalahan tersebut terjadi karena ketidakhati-hatian
dalam menggunakan prefiks yang tepat. Pada umumnya dikarenakan dipengaruhi oleh
bahasa daerah (Jawa atau Sunda). Bentuk yang baku dalam bahasa Indonesia adalah
menggunakan prefiks ter- sehingga jika diperbaiki menjadi bentuk
terbalik.
Dalam KBBI (2008 : 126) kata terbalik memiliki
makna yaitu, ter·ba·lik 1 v tidak sengaja membalik; sudah membalik; 2
a dl keadaan
atau berkedudukan berlawanan dr yg biasa (yg di bawah menjadi di atas, yg di
belakang menjadi di depan, yg di dalam menjadi di luar, dsb).
Bentuk
tidak baku
Ketemu sama fans.
(hlm: 21)
Brntuk baku
Bertemu sama fans.
Bentuk kata ketemu pada kalimat di atas merupakan bentuk
kata yang tidak baku. Kesalahan tersebut terjadi karena ketidakhati-hatian
dalam menggunakan prefiks yang tepat. Pada umumnya dikarenakan dipengaruhi oleh
bahasa daerah (Jawa atau Sunda). Bentuk yang baku dalam bahasa Indonesia adalah
menggunakan prefiks ter- sehingga jika diperbaiki menjadi bentuk ketemu.
Sementara ketemu dalam bahasa Indonesia bukan merupakan kata yang baku.
Dalam KBBI (2008 : 436) kata bertemu
memiliki makna yaitu, ber·te·mu v 1 ditemukan; diperoleh; terdapat di;
kedapatan di: batu
permata seelok ini tidak akan ~ di negara ini; 2 berhadapan
muka; bersemuka: ia
hendak ~ dng tuan rumah; selamat jalan, sampai ~ lagi; 3
mendapat atau menemukan (barang yg dicari): betapa dicarinya tiada ~ juga; kalau ~ arloji itu, akan
kuserahkan kpd polisi; 4 berjumpa; bersua: baru-baru ini saya ~ dengannya di
depan kantor pos; 5 menjadi satu (berhubungan, bersinggungan)
ujung dng ujung, jalan dng jalan, kali dng kali, dsb: dua sungai itu ~ di dekat laut;
tepi langit ~ dng permukaan laut; 6 sesuai atau cocok
(perkataan dng perbuatan, teori dng praktik, dsb); janjinya tidak pernah ~; teori yg tidak ~ dl praktik;
7 benar-benar terjadi (tt ramalan, dugaan, dsb); 8 sampai atau
tercapai (tt harapan, cita-cita, dsb): apa yg kuimpikan seminggu yg lalu, ~ juga pd hari ini;
9 dapat atau kena (bahaya, bencana, dsb): ~ dng bahaya maut;~ muka dng tedung, pb
bertemu (berharap-harap) antara dua orang yg sama-sama kuat (pandai).
Bentuk tidak baku
Ternyata G.O gampang banget ketiduran. (hlm: 52)
Bentuk baku
Ternyata G.O gampang banget Tertidur.
Bentuk kata ketiduran pada kalimat di atas merupakan bentuk
kata yang tidak baku. Kesalahan tersebut terjadi karena ketidakhati-hatian
dalam menggunakan prefiks yang tepat. Pada umumnya dikarenakan dipengaruhi oleh
bahasa daerah (Jawa atau Sunda). Bentuk yang baku dalam bahasa Indonesia adalah
menggunakan prefiks ter- sehingga jika diperbaiki menjadi kata tertidur.
Penggunaan ketiduran merupakan sebuah kesalahan karena tidak merupakan
kata yang baku dalam bahasa Indonesia.
Dalam KBBI (2008: 1460) kata
tertidur memiliki makna, yaitu ter·ti·dur v 1 (sudah) tidur; mulai
tidur: Upik sudah ~; 2 tidak sengaja tidur: semalam ia ~ di depan
pesawat televisi.
Daftar Pustaka
Setyawati, Nanik. 2010.
Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia.
Surakarta: Yuma Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional.
2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar