Selasa, 18 November 2014

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA TATARAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN PADA LATAR BELAKANG SKRIPSI MAHASISWA BAHASA INDONESIA UIR (DESI ARMAYANI)



ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA TATARAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN PADA LATAR BELAKANG SKRIPSI MAHASISWA BAHASA INDONESIA UIR (DESI ARMAYANI)
Nama   : Ade Safitri
NPM   : 126211811
Kelas   : 5A

            Ejaan sebenarnya tidak hanya berkaitan dengan cara mengeja suatu kata, tetapi yang lebih utama berkaitan dengan cara mengatur penulisan huruf menjadi satuan yang lebih besar, misalnya kata, kelmpok kata, atau kalimat. Kecuali itu, ejaan berkaitan pula dengan penggunaan tanda baca pada satuan-satuan huruf tersebut.
Kesalahan ini saya analisis dari latar belakang sebuah skripsi mahasiswa bahasa Indonesia Universitas Islam Riau.

KESALAHAN PENULISAN HURUF BESAR ATAU HURUF KAPITAL

Bentuk Tidak Baku:
Kecenderungan tuturan pedagang dengan pedagang pada maksim Kuantitas.
Bentuk Baku:
Kecenderungan tuturan pedagang dengan padagang pada maksim kuantitas.
            Pada kalimat diatas terdapat kesalahan penggunaan huruf kapital, yaitu pada kata kuantitas. Kata kuantitas pada kalimat tersebut tidak seharusnya menggunakan huruf kapital, karena tidak ada di dalam EYD yang menyatakan atau mengahruskan kata kuantitas tersebut menggunakan huruf kapital. Karena dalam EYD telah diatur penggunaan huruf kapital untuk alasan-alasan tertentu.
Menurut Depdiknas kata kuantitas (KBBI: ) memiliki makna yaitu, ku·an·ti·tas n banyaknya (benda dsb); jumlah (sesuatu).

KESALAHAN PENULISAN KATA
Kesalahan Penuulisan Preposisi di, ke, dan dari
  
Bentuk Tidak Baku
Pedagang dipasar ikan Dayun.
Bentuk Baku
Pedagang di pasar ikan Dayun.
Kesalahan yang terdapat pada bentuk diatas adalah kesalahan karena penulisan preposisi di yang tidak tepat. Di dalam EYD telah idatur penggunaan kata depan yang benar. Kata depan di, ke, dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.

KESALAHAN PENULISAN TANDA BACA
Kesalahan Penulisan Tanda Koma (,)

Bentuk Tidak Baku
Menurut Subyakti (1988:27) pentingnya peranan pragmatik dalam konteks semakin didasari oleh ahli bahasa sebagai jawaban atas kegagalan pendekatan yang memperhatikan struktural yang bersifat formal.
Bentuk Baku
Menurut Subyakti (1988:27), pentingnya peranan pragmatik dalam konteks semakin didasari oleh ahli bahasa sebagai jawaban atas kegagalan pendekatan yang memperhatikan struktural yang bersifat formal.
Kesalahan yang terdapat pada bentuk diatas adalah kesalahan berbahasa tataran EYD karena tidak menggunakan tanda koma. Dalam EYD telah dijelaskan bahwa tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.

Kesalahan Pemakaian Tanda Titik Dua (:)

Bentuk Tidak Baku
Leech (I Dewa Putu Wijana, 1983: 132) menyatakan bahwa prinsip kesopanan memiliki sejumlah maksim yakni, maksim kebijaksanaan, kemurahan, penerimaan, kerendahan hati, kecocokan dan kesimpatian.
Bentuk Baku
Leech (I Dewa Putu Wijana, 1983: 132) menyatakan bahwa prinsip kesopanan memiliki sejumlah maksim yakni: maksim kebijaksanaan, kemurahan, penerimaan, kerendahan hati, kecocokan dan kesimpatian.
            Kesalahan yang terdapat pada bentuk diatas adalah kesalahan karena tidak meggunakan tanda baca titik dua (:) dalam bentuk tersebut. Dalam EYD telah diatur bahwa dalam rangkaian atau pemerian yang merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan harus menggunakan tanda titik dua.

Kesalahan Penggunaan Tanda Petik Ganda (“) dalam Petikan Langsung

Bentuk Tidak Baku
Guru    : Hai, kamu.....,kutip sampah itu, masukkan ke dalan bak sampah
Siswa   : Kan bukan sayang buang Buk!!
Bentuk Baku
Guru    : “Hai, kamu.....,kutip sampah itu, masukkan ke dalan bak sampah”
Siswa   : “Kan bukan sayang buang Buk!!”
Pada bentuk diatas terdapat kesalahan berbahasa pada tataran ejaan yang disempurnakan. Kesalahannya yaitu karena tidak menggunakan tanda petik gandda (“) dalam kalimat petikan langsung. Di dalam EYD telah diatur bahwa tanda petik ganda mengapit ‘petikan langsung yang berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

DAFTAR PUSTAKA

Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia.  Surakarta: Yuma Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.
Gunawan & Nirmala. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Surabaya: Jaya Abadi.

1 komentar: