Senin, 17 November 2014

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA TATARAN FONOLOGI PADA BUNGKUS MAKANAN



ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA TATARAN FONOLOGI
PADA KEMASAN MAKANAN
Nama   : Ade Safitri
NPM   : 126211811
Kelas   : 5A
Kesalahan berbahsa Indonesia dalam tataran fonologi dapat terjadi baik penggunan bahasa secara lisan maupun secara tertulis. Sebagian besar kesalahan berbahasa Indonesia dalam tataran fonologi berkaitan dengan pelafalan. Bila kesalhan pelafalan tersebut dituliskan, maka terjadilah kesalahan berbahasa dalam ragam tulis. Berikut ini adalah kesalahan yang saya temukan pada kemasan makanan yang meliputi: perubahan fonem, penghilangan fonem, dan penambahan fonem.
1.      Kesalahan Pelafalan Karena Perubahan Fonem

1.1  Perubahan Fonem Vokal dan Fonem Konsonan
Perhatikan data disamping !
                                                Gemez
Pada gambar diatas terdapat dua buah kesalahan berbahasa tataran fonologi pada kata gemez. Pertama, kesalahan pelafalan karena penambahan fonem vokal, yaitu fonem /e/ pada kata gemas sehingga menjadi gemez. Kedua kesalahan pelafalan karena perubahan fonem konsonan, yaitu fonem konsonan /s/ pada kata gemas diganti fonem /z/. Kata gemez pada kemasan makanan tersebut adalah kata yang tidak baku dalam bahasa Indonesia. Kata yang baku digunakan adalah gemas.

Lafal baku             : Gemas
Tidak baku            : Gemez
Dalam KBBI (2008: 435) kata gemas memiliki makna yaitu, ge·mas a 1 sangat jengkel (marah) dl hati: saya sangat -- pd anak itu krn selalu mengotori lantai; 2 sangat suka (cinta) bercampur jengkel; jengkel-jengkel (cinta): -- aku melihat anak ini. Sedangkan kata gemez di dalam KBBI tidak memiliki makna.
            Berdasarkan penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan yaitu pada kemasan makanan tersebut seharusnya dibuat kata gemas. Karena kata gemez merupakan kata yang tidak baku dalam bahasa Indonesia.

1.2 Perubahan Fonem Konsonan
Perhatikan data disamping !
                                                               Koq telat ?!
Kesalahan yang terdapat pada gambar bungkus permen diatas jika dianalisis dari tataran fonologinya adalah keslahan pelafalan karena perubahan fonem konsonan /k/ menjadi /q/ pada kata kok menjadi koq. Kata koq pada bungkus permen tersebut merupakan kata yang tidak baku dalam bahasa Indonesia.
            Dalam KBBI (2008: 413) kata kok memiliki makna yaitu, kok [2] p 1 cak kata yg digunakan untuk menekankan atau menguatkan maksud: bukan aku -- yg menyuruh; 2 mengapa; kenapa: -- dia tidak datang?. Sementara kata koq di dalam KBBI tidak ada memiliki makna apapun.
            Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kata koq yang digunakan pada bungkus permen diatas adalah tidak baku. Untuk memperbaiki kesalahan kata koq disitu bisa diperbaiki dengan menggunakan kata kok.
1.3 Perubahan Fonem Vokal dan Penambahan Fonem konsonan
Perhatikan data disamping !
                                                    Jelly
Kesalahan yang terdapat pada tataran fonologi kemasan makanan diatas ada dua. Pertama, kesalahan pelafalan karena penambahan fonem, yaitu pembentukan gabungan atau gugus konsonan dari fonem konsonan tunggal menjadi rangkap. Konsonan /l/ menjadi /ll/, kata jeli menjadi jelly. Kedua, kesalahan pelafalan karena perubahan fonem, yaitu perubahan fonem vokal menjadi fonem konsonan. Fonem /i/ dilafalkan menjadi /y/, jeli dilafalkan jelly.
Lafal baku             : Jeli
Lafal tidak baku    : Jelly
            Dalam KBBI (2008: 575) jeli memiliki makna yaitu, je·li a 1 elok dan bercahaya (tt mata): gadis itu bermata --; 2 awas; tajam (tt penglihatan): pihak yg berwajib tentunya perlu lebih --; jel.li /jeli/ v selai. Sedangkan kata jelly dalam KBBI tidak memiliki makna apapun.
Kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa kata jelly tidaklah tepat penggunannya pada bungkus makanan tersebut karena bukan merupakan kata baku bahasa Indonesia. Sehingga bisa digunakan diganti dengan kata jeli agar penggunaannya tepat menurut aturan bahasa Indonesia.

1.4 Perubahan Fonem Konsonan
       Perhatikan data berikut!
                                                Extra
            Pada gambar bungkus minuman diatas jika dianalisis dari tataran fonologinya terdapat kesalahan pada pelafalannya yaitu kesalahan karena perubahan fonem konsonan. Fonem /x/ pada kata extra merupakan kata yang tidak baku. Dalam bahasa Indonesia lafal bakunya adalah ekstra, sehingga fonem /x/ disitu bisa diganti dengan fonem konsonan rangkap /ks/.
Lafal tidak baku          : extra
Lafal baku                   : ekstra
            Dalam KBBI (2008: 385) kata ekstra memiliki makna yaitu, eks·tra [2] /ékstra/ n 1 tambahan di luar yg resmi: gaji --; 2 sangat; luar biasa: rute tsb tergolong -- berat krn melewati rimba belantara. Sedangkan kata extra dalam KBBI tidak memilki makna.
            Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulannya yaitu pada kemasan minuman tersebut menggunakan lafal yang tidak baku. Untuk memperbaikinya supaya tepat penggunaannya dengan bahasa Indonesia kata extra bisa diganti dengan ekstra.

1.5 Perubahan Fonem Vokal dan Penghilangan Fonem Vokal
   Perhatikan data disamping !
                                    Qtela
            Kesalahan yang terdapat pada gambar bungkus makanan ringan diatas jika dilihat dari tataran fonologinya ada dua kesalahan. Pertama, kesalahan pelafalan karena perubahan fonem konsonan /k/ menjadi /q/, kata ketela menjadi qtela. Kedua, penghilangan fonem vokal /e/.
Lafal tidak baku          : Qtela
Lafal baku                   : Ketela
            Menurut KBBI (2008: 689) kata ketela memiliki makna yaitu, ke·te·la /ketéla/ n tumbuhan umbi yg tumbuh menjalar, umbinya dapat dimakan, daunnya untuk sayur. Sedangkan kata qtela dalam KBBI tidak memiliki makna apapun.
            Kesimpulannya adalah kata qtela pada kemasan makanan diatas tidaklah baku, sehingga kata qtela bisa diperbaiki dengan menggunakan kata ketela agar sesuai atau tepat penggunaannya sesuai dengan bahasa Indonesia.
2.      Kesalahan Pelafalan Karena Penghilangan Fonem
2.1 Penghilangan Fonem Konsonan
           Perhatikan data disamping !
                                                            Buavita
Pada gambar kemasan minuman diatas terdapat kesalahan pada tataran fonologi yaitu kesalahan pelafalan karena penghilangan fonem konsonan, yaitu fonem /h/ pada kata buah sehingga dilafalkan bua.
Lafal tidak baku          : bua
Lafal baku                   : buah
Kata buah dalam KBBI (2008: 211) memiliki makna yaitu, bu·ah n 1 bagian tumbuhan yg berasal dr bunga atau putik (biasanya berbiji): pohon mangga itu banyak -- nya; 2 kata penggolong bermacam-macam benda: dua -- kapal; se -- negeri; dua -- rencana; 3 pokok; bahan: -- percakapan; 4 hasil: -- jerih payahnya kini dapat dinikmati oleh keturunannya;-- manis berulat di dalamnya, pb perkataan yg manis-manis biasanya mengandung maksud yg kurang baik; sebab -- dikenal pohonnya, pb dr perbuatan atau perangai seseorang dapat diketahui asalnya. Sedangkan kata bua di dalam KBBI tidak memiliki makna.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan yaitu kata yang tepat digunakan pada kemasan diatas adalah buah bukan bua karena kata bua tidak baku dalam bahasa Indonesia.





2.2 Penghilangan Fonem Vokal
      Perhatikan data disamping !
                                                            Krupuk Udang
            Pada gambar bungkus makanan diatas jika dianalisis dari tataran fonologinya terdapat kesalahan pelafalan yaitu kesalahan akibat penghilangan fonem vokal /e/ pada kata kerupuk. Kata krupuk yang digunakan pada kemasan tersebut tidaklah merupakan kata yang baku.
            Menurut KBBI (2008: 686) kata kerupuk memiliki makna yaitu, ke·ru·puk [1] n makanan yg dibuat dr adonan tepung dicampur dng lumatan udang atau ikan, setelah dikukus disayat-sayat tipis atau dibentuk dng alat cetak dijemur agar mudah digoreng. Sedangkan kata krupuk dalam KBBI tidak ada memiliki makna.
            Kesimpulan yang bisa diambil berdsarkan penjelasan diatas adalah bahwa kata krupuk yang digunakan pada kemasan makanan diatas adalah tidak baku. Sehingga agar kata itu sesuai dengan aturan dalam bahasa Indonesia maka harus menggunakan vokal /e/ menjadi kerupuk.

2.3 Penghilangan Fonem Vokal
      Perhatikan data disamping !
                                                Anakmas
            Pada gambar kemasan makanan diatas terdapat kesalahan pada tataran fonologi yaitu kesalahan pelafalan karena penghilangan fonem vokal, yaitu fonem /e/ pada kata emas sehingga dilafalkan mas.
Emas menurut KBBI(2008: 366) memiliki makna yaitu, emas n 1 logam mulia berwarna kuning yg dapat ditempa dan dibentuk, biasa dibuat perhiasan spt cincin, kalung (lambangnya Au, nomor atomnya 79, bobot atomnya 196,9665); logam adi; aurum: ia memakai cincin -- bermata mutiara; 2 ki uang; harta duniawi; 3 ki uang suap; kena -- , makan suap; 4 ki sesuatu yg tinggi mutunya (berharga; bernilai): krn kemahirannya bermain bola, ia mendapat julukan “pemain berkaki – “; ia mendapat peluang -- untuk mencetak gol;-- berpeti, kerbau berkandang, pb harta benda harus disimpan baik-baik di tempatnya masing-masing; tak -- bungkal diasah, pb tidak peduli apa pun diperbuat, asal tercapai maksudnya; utang -- dapat dibayar, utang budi dibawa mati, pb kebaikan hati orang akan diingat selama-lamanya.
Sedangkan kata mas dalam KBBI memiliki makna yaitu 1 kata sapaan untuk saudara tua laki-laki atau laki-laki yg dianggap lebih tua; 2 kata sapaan hormat untuk laki-laki, tanpa memandang usia: apa kabar, -- ?; 3 panggilan karib istri kpd suami; bang; kak: -- , kemarin Ibu datang.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan yaitu kata yang tepat digunakan pada kemasan diatas adalah emas bukan mas.          

2.4 Penghilangan Fonem Konsonan dan Perubahan Fonem Vokal Rangkap
   Perhatikan data disamping !
                                                Ijo
Pada gambar kemasan makanan diatas dalam tataran fonologi terdapat dua kesalahan. Pertama, pelafalan karena penghilangan fonem, yaitu penghilangan fonem vokal ragkap menjadi vokal tunggal. Fonem /au/ dilafalkan menjadi /o/, hijau dilafalkan menjadi ijo. Kedua, kesalahan pelafalan karena penghilangan fonem, yaitu penghilangan fonem konsonan. Penghilangan konsonan /h/, kata hijau dilafalkan menjadi ijo.
Lafal baku             : Hijau
Lafal tidak baku    : Ijo
Di dalam KBBI(2008: 498) kata hijau memiliki makna yaitu, hi·jau 1 n warna dasar yg serupa dng warna daun; 2 n gabungan warna biru dan kuning dl spektrum; 3 a mengandung atau memperlihatkan warna yg serupa warna daun; 4 a ki belum berpengalaman: masih. Sedangkan kata ijo dalam KBBI tidak memiliki makna.
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulannya yaitu kata ijo yang digunakan bungkus makanan diatas tidaklah tepat, karena tidak merupakan kata yang baku. Sehingga bisa diganti atau diperbaiki dengan kata hijau.

3.      Kesalahan Pelafalan Karena Penambahan Fonem
3.1 Penambahan Fonem Konsonan
Perhatikan data disamping !
                                                                          Pudding
            Pada gambar makanan diatas terdapat kesalahan jika dianalisis dari tataran fonologinya yaitu, kesalahan karena penambahan fonem konsonan /d/ pada kata puding sehingga menjadi pudding.
Lafal tidak baku          : Pudding
Lafal baku                   : Puding
            Dalam KBBI (2008: 1111) kata puding memiliki makna yaitu, pu·ding [1] n tumbuhan semak, biasanya sering dijadikan tanaman pagar, warna daunnya merah (ada bermacam-macam, spt -- emas, -- hutan, -- merah, -- perada); Graptophyllum pictum; pu·ding [2] n penganan yg dibuat dr tepung (terigu, maizena, dsb). Sedangkan kata pudding dalam bahasa Indonesia tidak memilki makna.
            Kesimpulan yang bisa diambil dari penjelasan diatas adalah bahwa kata pudding adalah tidak baku digunakan dalam tulisan bungkus makanan diatas, sehingga bisa diperbaiki dengan menghilangkan fonem /d/ nya dan menjadi puding.


3.2 Penambahan Fonem Konsonan
     Perhatikan data disamping !
                                                Luwak
Kesalahan tataran fonologi pada kemasan makanan diatas adalah kesalahan pelafalan karena penambahan fonem, yaitu penambahan fonem konsonan. Penambahan fonem /w/ pada kata luak menjadi luwak.
Lafal baku             : Luak
Lafal tidak baku    : Luwak.
Kata Luak menurut KBBI (2008: 843) memiliki makna yaitu, lu·ak  [2]n binatang mirip kucing berbulu bintik-bintik yg gemar makan ayam, buah kopi, dsb; musang; Paradoxurus hermaphroditus. Sedangkan kata luwak dalam KBBI tidak memiliki makna.
Kesimpulan yang dapat diambil dari penjelasan diatas adalah bahwa penggunaan kata luwak disitu tidaklah tepat karena tidak merupakan kata yang baku dalam bahasa Indonesia. Sehingga kesalahan disitu bisa diperbaiki dengan mengganti kata luwak dengan luak.

3.3 Penambahan Fonem Konsonan
      Perhatikan data disamping !
                                                            Stick
Pada gambar bungkus makanan diatas dalam tataran fonologinya terdapat kesalahan yaitu kesalahan pelafalan karena penambahan fonem, yaitu penambahan fonem konsonan. Penambahan fonem /c/ pada kata stik dilafalkan menjadi stick.
Lafal baku             : Stik
Lafal tidak baku    : Stick
Di dalam KBBI (2008: 1340) kata stik memiliki makna yaitu, stik n Olr pemukul bola (dl permainan golf, hoki, dsb); tongkat. Sedangkan kata stick dalam KBBI tidak memiliki makna.
Kesimpulan yang bisa diambil dari penjelasan diatas adalah untuk memperbaiki keslahan pada penulisan stick bisa diperbaiki dengan menggunakan kata stik, sebab kata stick tidaklah merupakan kata yang baku.

3.4 Penambahan Fonem Konsonan
   Perhatikan data disamping!
                                                            Ahh
Pada gambar kemasan diatas dalam tataran fonologi terdapat kesalahan pelafalan karena penambahan fonem, yaitu pembentukan gabungan atau gugus konsonan dari fonem konsonan tunggal menjadi rangkap. Konsonan /h/ menjadi /hh/ pada kata ah dilafalkan menjadi ahh.
Lafal baku             : Ah
Lafal tidak baku    : Ahh
Di dalam KBBI (2008: 18) kata ah memiliki makna yaitu, ah p kata seru yg menyatakan perasaan kecewa, menyesal, keheranan, tidak setuju: -- , jangan marah dulu, nanti akan saya terangkan duduk perkaranya; -- , mengapa itu yg kau ambil. Sedangkan ahh dalam KBBI tidak memiliki makna.
Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulannya bahwa kata ahh pada bungkus makanan ringan tersebut tidaklah tepat penggunaannya merupakan kata yang tidak baku. Kata ahh disitu dapat diganti dengan ah dengan menghilangkan fonem konsonan /h/ yang satunya.

3.4 Penambahan Fonem Vokal
         Perhatikan data disamping !
                                                            Enaak
Pada gambar kemasan makanan diatas pada tataran fonologi terdapat kesalahan pelafalan karena penambahan fonem, yaitu pembentukan deret vokal /aa/ dari vokal /a/ pada kata enak dilafalkan menjadi enaak.
Lafal baku             : Enak
Lafal tidak baku    : Enaak
Dalam KBBI (2008: 371) kata enak memiliki makna yaitu, enak /énak/ a 1 sedap, lezat (tt rasa): kue ini -- rasanya; 2 sehat atau segar (tt kondisi badan): pd hari ini kondisi badan saya kurang --; 3 nikmat atau menyenangkan (tt perasaan, suasana, dsb); nyaman: setelah mandi dng air hangat, badan terasa --; 4 cak pulas; lelap (tt tidur): pd malam itu, tidurnya – sekali. Sedangkan kata enaak dalam KBBI tidaklah memiliki makna.
            Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulannya yaitu kata enaak pada kemasan makanan diatas tidaklah baku penggunaannya dalam bahasa Indonesia. Kata enaak disitu bisa diganti dengan kata enak.



3.6 Penambahan Fonem Vokal
          Perhatikan data disamping !
                                                                        Boom
Kesalahan pada tataran fonologi yang terdapat pada kemasan makanan diatas adalah kesalahan pelafalan karena penambahan fonem, yaitu pembentukan deret vokal /oo/ dari vokal /o/ pada kata bom dilafalkan boom.
Lafal baku             : Bom
Lafal tidak baku    : Boom
Kata bom dalam KBBI (2008: 205) memiliki makna yaitu, bom [1] n senjata yg bentuknya spt peluru besar yg berisi bahan peledak untuk menimbulkan kerusakan besar. Sedangkan kata boom dalam KBBI tidak memiliki makna sehingga kata boom tidaklah baku penggunannya dalam bahasa Indonesia.
Kesimpulan yang bisa diperoleh dari penjelasan diatas adalah bahwa dalam kemasan makanan tersebut penggunaan boom tidaklah tepat dan bisa diganti dengan bom.

Daftar Pustaka
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia.  Surakarta: Yuma Pustaka.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar